Kamis, 17 Maret 2022

BAB 4 Manusia Makhluk Otonom

Materi Bab 4 ini terdiri atas: 

  1. Nikmat Allah bagi semua mahluk; 
  2. Nikmat hidup, 
  3. Nikmat Akal, 
  4. Nikmat hidayah, 
  5. dua nikmat yang kerap terlupakan, 
  6. manusia mahluk individu; dan 
  7. konsep dosa individu dalam pandangan Islam

1. Nikmat Allah SWT bagi semua makhluk Hidup


Pengertian otonom yang terkait dengan keberadaan manusia sebagai makhluk Allah adalah bertalian dengan kebebasan menentukan pilihan.

Manusia tanpa terkecuali , memiliki hak menentukan pilihan di samping diikat oleh suatu kewajiban manusia sebagai makhluk Allah yang wajib beribadah. 

Hak dan Kewajiban itu kemudian berkellindan dengan masalah pahala dan dosa. sebuah hukum sebab akibat yang ditentukan oleh amal manusia.

Allah menjadikan manusia untuk menjadi Khalifah dibumi.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Baqarah ayat 30, bahwa Dia akan menjadikan seorang khalifah di bumi. Dia juga mengajarkan nama benda-benda kepada Nabi Adam.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Arab-latin: wa iz qaala rabbuka lil-malaa ikati inni jailun fil-ardi khaliifah, qaaluu a taj'alu fihaa may yufsidu fihaa wa yasfikud-dimaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisu lak, qaala innii a'kamu maa laa ta'lamun

Artinya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhanmu berfirman: "Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"

Dalam memikul tanggung jawab di dunia manusia telah siap memikul amanah yang telah ditawarkan oleh Allah SWT kepada Makhluk lainnya. Namun sepeti diungkap dalam Al-Quran Manusia itu cenderung banyak lalai, menyepelekan amanat dan zhalim terhadap makhluk lain dan dirinya.


اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ 

 Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh. (al Ahzab 33:72)


2. Nikmat Hidup

Allah SWT dengan sifat ar rahman menyediakan bagi semua makhluk. Manusia, Jin, Malaikat, binatang, maupun tumbuhan, diberi kesempatan menikmati kahidupan secara merata oleh Allah.

Jika manusia hanya mendapatkan nikmat hidup saja tanpa kelebihan yang lain apa bedanya Manusia dengan Makhluk Allah yang lain seperti binatang dan tumbuhan?

Dalam Nikmat Hidup, Semua Allah SWT swt telah dijamin rezekinya beserta fasilitas hidup yang lengkap. tak ada makhluk hidup yang harus membayar kenikmatan udara, kenikmatan air, kenikmatan tempat tinggal, semua telah disediakan sebagai bagian dari kelengkapan jaminan hidup dari Allah SWT.

Allah SWT menggambar manusia yang baik akan berada ada kondisi lebih baik daripada malaikat. sebaliknya manusia yang buruk akan berada pada kondisi lebih buruk daripada binatang.

Jika manusia hanya menikmati hidup semata tanpa mengisinya dengan amal ibadah sebagaimana yang dituntut oleh Allah SWT. manusia itu sama saja dengan makhluk Allah SWT lainnya yang memiliki kesempatan hidup tetapi tidak mendapatkan kesempatan mancatatkan amal baik mereka untuk kehidupan di Akhirat.


3. Nikmat Akal

Nikmat Allah SWT selanjutnya hanya dianugerahkan kepada jenis makhluk tertentu yaitu manusia.

Allah memberikan keistimewaan pada diri seorang manusia seperti:
  1. Alat Pengendalian diri
  2. Alat pengembangan diri
  3. Alat berpikir yang bisa digunakan untuk mengubah diri menentukan pilihan
Hanya manusia yang diberi nikmat akal. oleh seab itu manusia diserahi tugas untuk mengelola bumi, sebagai khalifah fil-Ardh.

Manusia bisa mengelola dunia, berbudaya. Allah tidak membeda-bedakan manusia yang berima maupun kufur semuannya diberi kenikmatan akal.

Sebagian besar pencinta ilmu yang sedang berjaya kini, banyak diantara mereka adalah ilmuwan yang terdiri atas manusia-manusia yang tidak pernah menyatakan keimanan kepada Allah swt.

bahkan kebanyakan diatara mereka adalah ateis. mereka tetap diberi kesempatan untuk mengembangkan ilmu Allah SWT sejalan dengan upaya sungguh - sunggh yang mereka miliki.

tanpa bekal keimanan kepada Allah SWT ilmu mereka kelola, mereka bisa melakukan berbagai perbuatan yang semana - mena.

Alla SWT menegaskan keberadaan keimanan harus bergandengan dengan ilmu dalam surat al - mujadilah, 58: 11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ 

Terjemahan :

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

4. Nikmat Hidayah

Allah SWT memberikan nikmat hidayah hanya bagi manusia tertentu (terpilih) saja.

sejalan dengan posisi manusia sebagai makhluk otonom yang diberi kebebasan untuk memilih kecenderungan fujur atau taqwa.

maka tidak semua manusia mengambil pilhan yang sama. ada yang memilih fujur atau cenderung taqwa.

Manusia memiliki nikmat yang lengkap : nikmat hidup, akal, maupun hidayah. terkait dengan nikmat hidayah, Allah swt hanya memberikannya kepada sebagian manusia saja.

Allah swt menegaskan bahwa urusan hidayah adalah urusan Allah swt semata. Allahlah yang memiliki hak dalam menetapkan siapapun yang akan mendapatkan hidayah dan siapa yang pasti (berdasarkan proses) tidak mendapatkan hidayah Allah SWT.

Kekasih Allah SWT,  Nabi Muhammad saw yang do'anya selalu dikabulkan oleh Allah SWT ternyata dalam urusan yang menjadi hak prerogatif Allah swt tidak diberi kemampuan apapun untuk menetapkan apalagi mengubahnya.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

Terjemahan 

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash, 28: 56)

Allah menegaskan dalam surat An-Nahl 16:93, bahwa Allah SWT sengaja mengatur manusia dalam keragaman kondisi. hal itu sangat terkait dengan mahakuasaan Allah SWT dalam mengatur segala sesutatu secara berbeda-beda.

Sesutatu yang sama dan seragam adalah hal yang mudah saja peraturannya bagi Allah swt, begitulah ketika Allah SWT menghendaki sesuatu yang sangat beragam dengan segala keunikan dan perbedannya. semua ada dalam kemahakuasaan Allah SWT.

5. Dua Nikmat yang Kerap terlupakan

Ketika sedang sehat seseorang merasa tenteram, tenang, bahkan tidak memiliki masalah besar.

Nikmat sehat pada dasarnya adalah anugerah Allah swt. udara bersih yang setiap kali menjadi konsumsi gratis bagi semua manusia adalah nikmat rutin yang sering kita lupakan.

Disamping nikmat kesehatan, ada nikmat lainnya yang kerap terlupakan oleh manusia  yaitu memiliki waktu senggang. setiap orang-orang rata-rata diberi waktu senggang yang banyak oleh Allah SWT.

Manusia cukup leluasa untuk memanfaatkan waktunya dalam banyak kegiatan di luar ibadah mahdah. 

Tanda Syukur bukan hanya sekedar ucapan. Ada bentuk tanda syukur yang bisa tampak sebagai bukti-bukti tinggalan yang baik serta menjadi penanda keberadaan dan kehadiran makhluk Allah SWT yang banyak bersyukur dalam bentuk tindakan (amal shalih).

Kehidupan di alam akhirat , dalam pandangan islam, adalah keihdupan sebenarnya , sebuah kondisi kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan di dunia.

6. Manusia Makhluk individu 

Pada suatu sisi, manusia adalah makhluk individu, maksudnya adalah manusia tegak sebagai makhluk yang unik. sekalipun orang kembar siam pasti terdapat suatu pembeda. Begitulah Allah SWT dengan kemahakuasaanNya.

Keunikan Manusia dan kebebasan yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua manusia, bisa diperiksa, tercatat, dalam alquran. Bagaimana Fir'aun, Qarun, Kaum 'Aad dan Tsamud, serta masih banyak tokoh lainnya yang buruk, diceritakan sebagai contoh dan peringatan Allah kepada ummat Muhammad saw.

Allah juga menceritakan nabi didalam Alquran mereka adalah manusia pilihan dengan berbagai cobaan dan keberhasilan. masalah yang mereka hadapi juga di luar anugerah yang diberikan Allah kepda manusia kebanyakan.

Nabi Muhammad SAW telah menjadi uswah hasanah yang tak akan habis contoh kebaikannya. bersama dengan keunikan yang diberikan Allah kepada manusia, Allah telah melengkapi manusia dengan aneka aturan untuk kemaslahatan hidup manusia.

7. Konsep Dosa individu dalam pandangan islam

Sebagai makhluk individu, sejak awal kelahiran manusia terlepas dari ikatan dosa siapapun. seorang bayi lahir, sekalipun  dari seorang ibu yang tidak memiliki ikatan suami-istri yang syah, bayi tersebut tetap berada dalam kondisi yang fitrah, suci tidak ada istilah " Haram- Jaddah". yang "Haram Jaddah" adalah orang tuanya.

tidak ada bayi yang mewarisi dosa ibu-bapaknya, karena manusia dilahirkan sebagai makhluk individu maka urusan dosa pun adalah urusan dosa individu.

masing-masing manusia harus mempertanggungjawabkan hasil perbuatan masing-masing di hadapan Allah SWT. Syafaat nya adalah righa Allah. 

Mempengaruhi orang lain, baik maupun buruk adalah bentuk amalan yang dihitung sebagai amal pribadi. pengaruh amalan tersebut terkait dengan oranglain seperti jenis amal misal shadah-jariyah, tetap akan meninggalkan dampak yang pada akhirnya menyangkut perhitungan amal.Oleh karena itu Allah SWT menetapkan satu kondisi khusus yang akan dikaitkan dengan hasil perilaku pribadi tetapi bertalian dengan keberadaan orang lain.

Manusia melibatkan orang lain dalam melakukan perbuatan, dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, mereka akan mendapatkan balasan dan perhitungan untung - rugi akibat perbuatannya.

Perhitungan tersebut, pada dasarnya, bukan dalam pengertian " Memikul beban dosa orang lain" tetapi mereka mempertanggungjawabkan hasil perilaku mereka mengajak atau mempengaruhi orang lain untuk melakukan suatu perbuatan.



Referensi:

http://www.dw.com/id/invasi-spesies-asing/g-16628333

 http://www.kompasiana.com/baskoro_endrawan/alligator-gar-di-waduk-jatiluhur- campur-tangan-manusia-atas-keseimbangan-alam_552b2def17e617e79d6240a iQuran V 2.5.4 for Android 

Mansoer, Hamdan. et.al. 2004. Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, Departemen Agama RI 

 Rasyid, H. Sulaiman. 2000. Fiqh Islam. Cetakan ke-33. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Portfolio Ujian Akhir semester

Tugas  ke-9   Materi Bab 6 tediri atas Manusia makhluk belajar Konsep Pendidikan yang islami Kewajiban Belajar bagi muslim dan muslimah Kewa...